Tampilkan postingan dengan label Baris waktu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baris waktu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2020

Pesan Sendu Untuk Rayu


Hai Rayu.
Ini aku Sendu, sekadar mengingatkan saja barang kali kamu lupa namaku. Aku menulis ini bukan untuk basa basi menanyakan kabarmu, sebab tanpa aku tanya pun, aku tahu kamu pasti sedang baik dan bahagia bersama Rona. Rayu, kurang lebih dua tahun lalu aku kembali pulang. Sudah tidak bebas di tanah perantauan, kini aku sedang giat bekerja, kamu tahu itu.

Kurang lebih dua tahun lalu kita berpisah, namun benar-benar berpisah mungkin setengah tahun lalu saat ada Rona dalam hidupmu, ini menurutku saja. Karena mungkin dua tahun atau setengah tahun lalu tentu sama saja buatmu “Kita sudah berpisah”

Setelah aku, hadir nama-nama baru dalam hidupmu, begitupun dengan hidupku. Aku mengenal Tabah dan Kilat, tetapi tidak ada kisah yang terbangun lebih lanjut, selesai sebelum dimulai. Berbeda dengan kamu yang mengenal Sorai dan Rona. Kapalmu dan Sorai berlayar meski hanya sebentar, dan akhirnya berlabuh pada Rona.

Rayu, setelah semua hal-hal sakit yang membuat kita berakhir, setelah berulang kali kata jahat terlontar dari bibirku untukmu, aku ingin mengatakan ini: Terima Kasih Rayu. Terima kasih untuk semua hal-hal baik yang kamu berikan kepadaku, sebab ketika kamu jahat saat itu, mungkin kamu sedang lupa caranya berbuat baik padaku dan caranya menjaga kita.



Ya sekali lagi Rayu, Terima kasih untuk:
  • Nasi goreng bumbu abstrak.
  • Bayam goreng tepung.
  • Bros bunga hijau dan oren.
  • Nasi campur.
  • Mie instan.
  • Buku puisi mewarnai.
  • Coklat manis besar dan kecil.
  • Boneka beruang besar dan kecil.
  • Boneka bola.
  • Dua buku agenda mini.
  • Bubur ayam, gado-gado, roti bakar di pagi hari.
  • Traktiran ulang tahun.
  • Soto mie.
  • Sop dan sate kambing malam hari.
  • Tiket nonton.
  • Gulai tikungan.
  • Bolu ketan hitam.
  • Tiramisu.
  • Cheseecake.
  • Snack bucket.
  • Cangkang kerang sawarna.
  • Puisi dan surat manis.
  • Cermin merah.
  • Hal-hal yang mungkin aku lupa dan tidak bisa disebutkan.
  • Nasihat dan segala pengalaman.
  • Waktu luang dan segala dukungan.

Agustus 2018
Terima kasih ya untuk hal-hal yang sangat banyak itu.

Sekarang, bahagia selalu ya!
Untuk kamu dan untuk aku di jalan kita masing-masing.
Terima kasih Rayu sudah membaca ini, jika kamu membacanya tentu saja.

Rabu, 04 Desember 2019

Dialog Dengan Diri Sendiri

Dokumentasi Pribadi ftr


Kamu Tidak ingin pulang
dan membiarkan rumah itu kosong.
Tetapi tidak ingin juga, rumah itu dihuni orang lain.
Sungguh egois ya?
Seharusnya kalau tidak ingin rumah itu dihuni orang lain,
Maka seharusnya kamu pulang.
Sebelum ada orang lain datang.

Jangan membiarkan rumah itu kosong
sedang kamu melanglang buana mencari rumah lain.
kemudian ketika rumah itu diisi orang lain
kamu kelimpungan karena tidak tahu harus pulang kemana.
Sedangkan rumah baru belum ditemukan.
Lalu akhirnya bagaimana?
Menjadi gelandangan bersama kenangan.

Sebenarnya apa yang kamu inginkan?

Jawabannya:

Saya hanya ingin sertifikat bahwa rumah itu bersih, setelah sebelumnya dimasuki orang lain tanpa izin. Itu saja. Setelah itu saya bisa terima kembali semua masalalu yang terjadi di dalam rumah itu. Jika memang yakin bersih ya buktikan saja, mengapa mengulur-ngulur waktu sampai muncul satu dua konflik lainnya yang semakin menyesakan? Saya hanya tidak ingin mati konyol karena ulah orang asing yang dibiarkan masuk tanpa izin lalu mengotori rumah saya itu.

Kemudian, saya dianggap memberikan harapan palsu tingkat tinggi. Ya tuhan, saya bahkan lebih sering memberikan harapan palsu kepada diri saya sendiri, sama sekali tidak berpengalaman memberikan harapan palsu kepada orang lain. Sejak awal pun saya hanya ingin bukti selembar kertas yang menyatakan rumah saya itu bersih yang kemudian bisa membuat saya kembali pulang dengan tenang, dan masuk kerumah dengan kalimat “semua akan baik-baik saja”
Lalu apa?

Saya yang setengah mati meminta agar rumah itu diperiksa kebersihannya, justru tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian dia yang entah siapa, datang ke rumah yang telah diperiksa tanpa sepengetahuan saya, dan mungkin mendapatkan semuanya beserta surat pernyataan bahwa rumah itu baik-baik saja dan bersih dari kotoran yang dibawa orang asing, dan ya! Dia terima rumah itu dengan segala masalalunya.

Kemudian disini salah siapa?
Salah saya yang egois ini?
Atau siapa?

Dan ternyata…
Saya sangat Lelah
Lelah menghitung begitu banyak helaan nafas
Yang saya keluarkan sendiri ketika memikirkan ini semua.

-ftrrzkm, Desember 2019


dokumentasi pribadi ftr

Jumat, 15 Juni 2018

Visual Empat Tahun Setelahnya

Foto by: ftrrzkm
Empat tahun setelahnya.

Ini Tanah Lot
ketika tidak sedang mengalami pasang air laut.

Ini Tanah Lot
ketika tidak sedang dilanda hujan rintik-rintik.

Begitu cerah bukan?
bahkan sampai teriknya menyengat kulit.


Empat tahun yang lalu
Apakah visualmu sama denganku?
Tanah Lot yang sedang mengalami pasang air laut?
Tanah Lot yang diguyur hujan rintik-rintik?
sampai rintik berganti deras dan membasahi tubuh?

Jika "Ya"

Ini sisi lainnya, kamu lihat saja ya
melalui potretnya yang kuabadikan dalam sebuah foto
Tanah Lot yang sedang cerah ceria.

Inilah Tanah Lot empat tahun setelah hari itu.

Minggu, 13 Mei 2018

Sebaris Satu Kata


Foto by: ftrrzkm


Terlihat
Mendekati-Nya
Karena
Seperti
Memiliki
Sebuah
Keinginan
Saja
Atau
Ketika
Gundah
Dan
Risau
Saja

Mungkin
Benar

Namun
Tidak
Sepenuhnya
Benar

Karena
Sesungguhnya
Hanya
Memanfaatkan
Momentum
Saja

Memanfaatkan
Momentum
Untuk
Melakukan
Titik
Balik

Ya
Aku
Berbalik
Arah
Untuk
Kembali
Menjadi
Diriku
Yang
Dulu
Setelah
Kamu
Pergi

Apakah
Salah?

Semoga
Kedepannya
Tidak
Hanya
Ketika
Gundah
Melanda
Saja

Melainkan
Ketika
Bahagia
Membuncah
Di hati
Aku
Tetap
Mengingat-Nya
Paling
Pertama
Dan
Utama

Karena
Hidup
Ini
Adalah
Milik-Nya

Semoga
Lampu
Kehidupanku
Bisa
Kembali
Menyala
Terang
Tidak
Terus
Menerus
Redup
Atau
Padam

Percayalah
Allah
Tuhan
Semesta
Alam
Memiliki
Rencana
Yang
Jauh
Lebih
Baik
Setelah
Ini

Ftrrzkm-

Minggu, 31 Desember 2017

4 sajak tentang Tahun Baru, Kembang Api, Kau, dan Aku

Ftrrzkm. Dokumentasi Pribadi

Siapa yang akan menyangka
bahwa akan secepat ini semua berlalu?
Segala kenangan melebur jadi abu
setelah dibakar api tahun baru.

Aku seksi dokumentasi dalam kisah ini,
tidak pernah menyesal telah mengumpulkan
segala foto, bon nonton bioskop, dan  surat cinta serta bungkus coklat yang kau berikan.
Meski nyatanya harus berujung dalam api pembakaran hidangan tahun baru.

Maka setelah matang, hidangan tahun baru itu akan kuberi nama, "kenangan".

***

Pesta tahun baru?
Ah! Aku tidak pernah menyiapkan ritual semacam itu.
Bagiku malam ini cukup saja menikmati kilauan kembang api dilangit sana
yang entah disulut siapa?

Nyatanya..
kilauan kembang api itu membuatku berpikir,
bahwa apa saja, tidak ada yang abadi.
seperti kembang api.
Dor! Berkilap dilangit sana lalu hilang begitu saja.

***
Bekerja dan menabung selama 12 bulan dalam setahun.
Demi bisa mencicipi meriahnya perayaan tahun baru.

Kemudian apa?
Dalam hitungan 10 detik menuju jam 00.00
segala materi yang telah dikumpulkan selama 315,536,000 detik
terbang entah kemana.

Sama Seperti kisah kita
yang hilang dalam sekejap saja.
Mengertikan?
Bertahun-tahun dibangun,
lalu hilang dalam satu detik saja kalimat pisah itu terucap.

Sakit memang,
tapi apalah daya?
Selain memulai tanpa kau lagi dari nol.

***

Meledak segalanya meledak.
Kembang api meledak di langit hitam sana.
Asmara meledak tanpa diduga-duga.
Bukan tidak menerima,
hanya sedih melanda bagai badai yang memporak-porandakan rasa.

Sadar atau tidak.
Setiap tahun
diakhir tahun
selama tiga tahun belakangan kita bersama,
kembang api sering meledak di dada kita masing-masing
menjadi bongkah bara amarah.
Sama keras ledakannya dengan kembang api di atas sana.

***

Lalu,
Ucapan pergantian tahun kali ini akan jatuh kepada siapa?
Yang pasti bukan aku!

ftrrzkm
1/1/2018
12:36 AM

Happy New Year!

Selasa, 19 Desember 2017

Gerakan FIS Mengajar- first time to be a volunteer


Kalau Raisa punya kali kedua maka Fitri punya kali pertama, kali pertama menjadi Volunteer. Kejadiannya sudah sebulan yang lalu, tepatnya ditanggal 18-26 November 2017. Pada kesempatan kali itu, saya menjadi Volunteer dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial (FIS), tempat saya menimba ilmu di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sesuai dengan nama penyelenggaranya maka kegiatan itu pun di beri nama Gerakan FIS Mengajar (GFM).
Gapura Kampung Sindang- dokumentasi Pribadi
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya GFM diadakan selama seminggu, dan berlokasi di Kampung Sanding, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan sosial tersebut sebenarnya bersifat umum, mahasiswa dari luar FIS pun sangat diperbolehkan berpartisipasi jika ingin menjadi bagian dari kegaitan GFM tersebut. Sesuai dengan namanya, maka kegiatan GFM ini adalah mengajar, namun tidak menutup diri bahwa ada kegiatan lain diluar mengajar yang bersifat pengabdian kepada masyarakat.

Meski hanya diadakan selama seminggu, GFM ini memberikan banyak sekali pengalaman. Mulai dari pengalaman menginjakan kaki di sawah, mengikuti pawai MTQ, menyusun atau mengkategorikan buku-buku untuk perpustakaan di madrasah, bermain bersama anak-anak, mengajarkan membaca, berhitung, menyanyi lagu Hymne Guru, dan menjadi MC di seminar untuk masyarakat setempat.

Saat mengajarkan membaca di home stay
Dari semua pengalaman itu, ada pengalaman baru ada juga yang memang sudah pernah saya lakukan, tetapi memang lebih dominan pengalaman barunya. Ada pun pengalaman baru tersebut, seperti pengalaman mengajar Sekolah Dasar. Bukannya tidak suka anak-anak, hanya saja saya jarang sekali memiliki kesempatan untuk bercengkrama dengan anak-anak kecil. Hal ini terjadi akibat latar belakang saya yang merupakan anak terkahir dari dua orang bersaudara, dan jarang bertemu dengan keluarga besar (sepupu, ponakan, cucu) karena lokasi yang jauh. Latar belakang tersebut membuat saya menjadi sangat jarang ngemong anak kecil, sehingga merasa sulit ketika harus berinteraksi dengan anak kecil. Melalui GFM ini, saya pada akhirnya menjadi  sedikit lebih lugas berinteraksi dengan anak-anak, tanpa disangka-sangka ternyata saya bisa juga membimbing anak kelas 2 SD untuk belajar membaca dan berhitung, sungguh melegakan.

Selanjutnya pengalaman mengajar menyanyi. Saya yang  sejak sekolah tidak pernah suka pelajaran bernyanyi, karena merasa malu bernyanyi di depan umum, akhirnya melalui GFM saya berani juga bernyanyi di depan umum. Semua berawal dari saya yang harus mengajarkan kepada siswa kelas 6 SD lagu Hymne Guru, yang akan dinyanyikan untuk memperingati hari guru. Tanpa rasa canggung, saya pun akhirnya berani menyanyi di depan kelas memberikan contoh kepada anak-anak, kemudian membimbing mereka untuk bisa menyanyikan lagu Hyme Guru sendiri tanpa iringan saya. Saya sangat tidak menyangka dan merasa senang atas hal ini.



berfoto bersama di jam istirahat sekolah

Menjadi MC dalam seminar pun merupakan pengalaman baru (lagi) bagi saya. Terakhir menjadi MC sebelum GFM itu saat kelas 2 SMA (kalau tidak salah) menjadi MC untuk kegiatan buka bersama anak yatim piatu di sekolah, sudah lama sekali kan. Kemudian saya yang masih suka malu-malu berbicara di depan orang banyak sebagai pemandu acara, akhirnya ditunjuk menjadi MC dan saya mengiyakan karena memang tujuan mengikuti GFM ini untuk berkontribusi dan belajar sesuatu yang baru. Ya meski amatir, meski belum sempurna, saya cukup senang sudah berani (lagi) menjadi MC sebuah kegiatan.

Yang tidak kalah seru dan heboh, pawai MTQ. Sungguh ramai dan heboh sekali acara ini, bertemu, dan berinteraksi dengan banyak orang merupakan hal positif yang saya dapatkan. Melihat antusiasnya masyarakat mengikuti pawai MTQ ini, membuat semangat diri ini, dan membuat saya merasa sangat senang serta beruntung sudah masuk menjadi bagian GFM.
berjalan kaki menuju kegiatan pawai MTQ

Meriahnya pawai MTQ































Ya meskipun tidak mengikuti kegiatan sampai hari terakhir, dan harus sudah pulang duluan di hari kamis tanggal 23 November karena suatu hal penting, tetapi saya merasa sangat senang dan merasa begitu penuh dengan pengalaman baru yang tidak akan terlupakan. Ah, sungguh ramah-ramah sekali masyarakatnya, membuat betah berlama-lama mengabdi disana.

Semoga jaya selalu, Kampung Sanding, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten. Salam rinduku untuk alammu yang indah, dan masyarakat yang ramah. Terimakasih GFM, telah menorehkan kisah baru dalam hidupku.
Ftrrzkm
19/12/17


Jangan pernah takut untuk melakukan suatu hal baru yang bersifat positif. Takutlah untuk melakukan suatu hal baru yang bersifat negatif. Jangan ragu untuk mengexplore diri mencari pengalaman berharga, dan menjalin relasi baik dengan orang lain. Karena kita adalah makhluk sosial yang akan terus berinteraksi dengan sesama” ftrrzkm.

Selasa, 05 Desember 2017

K Dan Kedinamisan Dalam Hidup


Ilustarsi hasil dokumentasi pribadi ftrrzkm

Hidup itu tidaklah statis
melainkan dinamis.
Selalu bergerak
dan berubah secara mendadak.

Tiap harinya
akan ada yang datang
dan akan ada yang pergi.
Tak jarang pergi tanpa meninggalkan pamit.

Hidup itu dinamis.
Hari ini dekat
besok jauh
siapa yang sangka?

Hari ini ceria
Besok duka tiada tara
Siapa yang mau?

Keadaan yang ada tak jarang rumit.
Tugas kita sebagai bagian dari hidup adalah menerima.
Menerima itu sulit
maka tak ada salahnya belajar terlebih dahulu.
Ya belajar menerima keaadaan yang nyata
bukan angan-angan atau ekspetasi yang terkadang menyakiti.

Jatuh itu biasa.
Yang luar biasa itu
sudah jatuh tertimpa tangga
namun dapat berdiri lagi dengan tangguh setelahnya.

Seseorang pergi karena suatu alasan.
Sahabat pergi meninggalkan kesan.
Meski aku tidak pernah tahu alasanmu.
Tetapi kamu tetap berkesan bagiku.
Karena kamu seseorang
yang telah kuanggap sahabat sejak kecil
kita bersenda gurau bersama.

Semoga bahagia.
Aku telah menerima segala
keadaan nyata yang ada.
Tak ada lagi ekspetasi apapun
tentang persahabatan kita
yang entah kamu anggap apa.

Hidup itu dinamis
dahulu kamu musuh beratku
lalu kamu menjadi temanku
lama-lama kuanggap sebagai sahabatku
kemudian karena suatu alasan
kamu pergi tanpa pamit dan jejak.

Sekian saja.
Tanpa panjang lebar
kamu pasti mengerti arahnya akan kemana.
Semoga bahagia.
Dan semoga dapat selalu menerima
kedinamisan dalam hidup ini.

K
Seseorang yang menganggap kamu sahabat.


28/11/17

Senin, 06 November 2017

Puing-puing Gedung


ilustrasi by ftrrzkm

Sadar bahwa akulah penyebab rusaknya gedung itu.
Sadar bahwa akulah penyebab runtuhnya gedung itu.
Ya, gedung yang sudah kita bangun selama hampir tiga tahun belakangan.
Maka jika kini kamu berpaling dengan yang lain
entah untuk membangun gedung baru, atau sekedar bermain-main saja
maka aku tidak berhak untuk sedih dan protes atas itu semua.

Jika kamu bertanya, bagaimana dalamnya hatiku
jawabnya masih sama, kamu!

Kini segalanya tinggal puing-puing
Aku masih mengumpulkan puing-puing itu,
berharap kamu kembali dan kita kembali menyusun segala puing itu.
Nyatanya ketika kumasih mengumpulkan puing itu.
Kamu telah berlalu pergi, semakin jauh seakan tidak ada peluang lagi.

Lantas, apa yang bisa kulakukan?
Jika mengejar saja sudah tidak ada kesempatan lagi?
Ya, hanya tersenyum membaca kisah yang abadi dalam tulisan-tulisan indahmu.

Malam ini tawaku memuai diudara, bagusnya tidak diiringi tangisan.
Tawa karena membaca kisah dua sampai tiga tahun lalu
dimana aku masih sangat polosnya mengenal apa itu cinta.
Dan aku memilih kamu, untuk dewasa bersama pertanyaan, “apa itu cinta?”

Kini semua rusak sudah, karena aku yang tidak mengerti kamu.
Karena aku yang salah tingkah, dan membuat pemberontakan terus menerus.
Menyakiti kamu, yang seharusnya kujaga selalu.

Hujan turun lagi malam ini
tidak ada lagi “Hujan Punya Cerita: Aku dan Kamu Di bawah Jaket Hitam”
atau “Hujan Punya Cerita: Hujan Tahu Kita Berdua”

Jarak semakin jauh, maka tidak ada lagi ”Saling: Membuat Kita Berjarak 0 Centimeter”
Dan aku sudah lama tidak menyesap secangkir kopi,
Karena merasa takut, lambungku akan menolaknya.
Maka tidak adalagi The Coffe Lady.

Dan kini kumerasa lapar tengah malam,
namun tidak ada lagi, Nasi Goreng Bumbu Kuning (Abstrak) yang tersaji.

Dan aku masih percaya bahwa ini “Bukan Kebtulan, Tapi Memang Rencana Tuhan
Semoga.



Ftrrzkm
7 November 2017
1.30 AM



Jumat, 30 Oktober 2015

Tergenapi (Baris Waktu 3)

29 Oktober 2014

Ini tentang sebuah hubungan timbal balik, yang mau tak mau harus tercipta namun tanpa paksaan.
Terjadi secara alami dan begitu saja.
Disertai alasan atau tidak sama sekali.
Bahagia dan kecewa ada didalamnya.
Menyusuri setiap inci ceritanya.

Atau diam-diam menyelinap dalam khayal.
Khayalan yang resikonya akan menyakiti atau sebaliknya.

Tidak semua jalan yang dipilih akan berujung pada bahagia.
Namun tidak selalu pula berujung pada duka.
Jika menyusurinya tanpa luka yang menohok hati.
Akan kubiarkan semua berlalu seiring berjalannya waktu.
Tidak akan aku persulit dan tidak akan kuberbalik.

Namun jika kenyataannya baru selangkah maju saja aku sudah terluka, apa perlu kuteruskan?.
Bila kenyataannya di ujung jalan sana sudah terlihat duka, apa tidak boleh aku berbalik dan mencari jalan lain?.
Jalan lain dalam labirin yang memang benar.
Jalan lain dalam labirin yang tidak akan mencipta luka.
Segalanya membuat langkah terhenti pada persimpangan jalan dengan segala kemungkinan yang ada.

Segalanya sudah terpampang jelas.
Bahkan sejak awal.
Karena aku ingin, terluka sekalipun kubiarkan.
Mungkin buta, atau mati rasa terhadap luka-luka itu.

Namun kini aku sadar.
Sadar bahwa tidak perlu lagi kuteruskan jalan penuh luka ini.
Dan aku sadar bahwa memang ini bukan jalanku, aku harus segera berbalik.
Berbalik dan berharap luka ini senantiasa pulih, seiring berjalannya waktu.
Waktu yang kuperlukan untuk berbalik arah, dan  waktu yang kugunakan untuk melupakan kisah duka.
Semoga memang ini pilihan yang terbaik untukku yang hanya berdiri dengan sebelah hati.


29 Oktober 2015

Setahun lalu, aku menuliskan kisah duka itu.
Setahun lalu, aku berdiri dengan sebelah hati.
Setahun lalu, aku masih ganjil dan belum tergenapi.
Ya setahun berlalu, dan semua cerita kini telah berubah.

Keinginanku untuk berbalik setahun yang lalu, ternyata terhambat.
Aku tidak berhasil berbalik dan melupakan segala kemustahilan itu
Entah, seperti terbawa angin aku terus melangkah kedepan tanpa menyerah dan lelah.
Menghadapi segala kesakitan yang kutahu akan aku dapatkan jika terus melanjutkan jalan.
Seperti melawan arah ya?

Kini setahun sudah, dan aku tergenapi.
Sudah tidak lagi berdiri dengan sebelah hati.
Luka-luka yang ku dapatkan untuk sampai sejauh ini sudah terobati segalanya.
Aku telah berdamai dengan masalalu.
Aku merasa utuh dan bahagia saat ini.

Menyusuri jalan kini tak seorang diri.
Aku ditemani, oleh kamu.

Kamu yang setahun lalu adalah kemustahilan yang aku harapkan.
Dan kini, kamu adalah kemustahilan yang menjadi nyata.

Ftrrzkm


Sabtu, 31 Januari 2015

Baris Waktu-2

  • Apa yang harus dipertahankan dan dinantikan?. Bila mimpi-mimpi ala putri, sudah jelas terjawab realita.
  • Untuk apa masih menunggu sesuatu yang bukan haknya untuk ditunggu.
  • Ketika dalam gelap yang hanya ditemani penerangan seadanya saja kamu dapat terlihat. Bagaimana diruang terang?
  • Kenapa juga harus 'kecemplung' dan ngurusin urusan yang tidak seharusnya. Urusan sendiri saja masih banyak.
  • Seharusnya kubiarkan saja kamu dulu tenggelam tak usah kuselamatkan. Biarkan orang lain yg menyelamatkanmu.
  • Memaki pun tak ada gunanya. Yang sudah pergi dan berlalu, realitanya tidak bisa kembali.
  • Ketika hujan menyapa, sambutlah dengan ceria, seperti tumbuhan yang tegak setelah tersentuh tetesannya.
  • Selamat malam, selamat tidur, selamat bermimpi, dan selamat memantaskan diri.
  • 10:35 kerlap kerlip lampu dari ketinggian yang entah berapa, terlihat sangat jelas. Indah.
  • 11:28pm. bebek, sudah bebek saja tidak usah bermimpi untuk menjadi angsa
  • Jadi ya, entah harus bagaimana. Bebek tidak akan berubah menjadi angsa meski bulan purnama sekalipun. 'maksa'
  • Semua tak sama, tak pernah sama, dan tak akan sama lagi.
  • Akan ada hal-hal tak terduga yang tidak pernah kau sangka sebelumnya, menjadi nyata.
  • Sepertinya kita tidak bisa lebih lama lagi, cukup sampai disini. Aku tak ingin ada luka-luka yang tercipta lagi.
  • Dan akhirnya mandek. Berhenti di baris kesekian. Entah, rumit dan sulit. Seperti aku berhenti untuk menerjang arus aliran air itu.
  • Ketika langit malam tampil dengan indahnya, rusak semua karena emosi yang bergumul menjadi satu dalam hati.
  • Sedang dipersimpangan jalan. Memilih arah untuk jalan kemana.
  • Dan mungkin agar dapat tetap terlelap dengan kualitas yg baik, tak perlu ada istilah kamu dalam mimpiku.
  • Apa jadinya bila semua keluh kesah serta rindu tak terungkap tak terucap? Lelah kata sang hati menahannya.
  • Pagi ini membuat aku teringat padamu, teringat bahwa masih banyak cerita yg ingin kubagi denganmu.
  • Air tau kemana dia harus bermuara.
  • Untuk kesekian kalinya aku berpikir, untuk apa mempertahankan sesuatu yg melukai? Tapi yang kulakukan malah bertahan disini.
  • Selamat pagi, beberapa waktu yg lalu di jam yang sama, aku selalu setia mencari mu di kerumunan manusia.
  • Hening, bening, apa adanya. Air.
  • Pagi masih sama hening. Ruang yg berpenghuni seakan tak berpenghuni.
  • Dalam gelap dan temaram lampu baca, aku berusaha menyalin cerita masalalu, yang akan senantiasa dikenang.
  • Dalam gelap sebelum terlelap kuciptakan mimpi-mimpiku dan kurangkai tinggi-tinggi, agar dapat kugapai segalanya.
  • Apa yang terlihat kokoh diluar, ternyata rapuh didalamnya. Selamat malam~ menanti pintu terbuka.
  • Aku sosok tersembunyi. Berusaha setia menemani. Hening apa adanya tanpa harap apa-apa.
  • Masih terjaga. Meski bukan satu-satunya.
  • Bisa jadi tawamu bukan karenaku.
  • Masih saja pilu entah sampai kapan, seperti ungu menjadi biru.
  • Jakarta senantiasa ramai, seperti suara-suara dalam kepala ku. Menyebut namamu riuh tak beraturan.
  • Aku ingin tetap menikmati lembar demi lembar hariku bersama, agar segalanya terasa nyaman dan menyenangkan
  • Ada seperti tak ada. Berpenghuni seperti tak berpenghuni. Sepi.
  • Ternyata masih ada. Entah sedikit atau banyak sekalipun. Dan harus disimpan rapat dalam kotak.
  • Dalam senja yang semakin gelap aku memikirkannya berharap ia muncul di hadapan dengan wajah sumringahnya.
  • Selamat malam. Semoga saja gigit jail nyamuk tidak mengurangi kualitas tidur mu.
  • Segala gambaran dalam bingkai itu menyatakan bahwa pandanganku hanya tertuju pada satu titik saja.
  • Masih ditempat yang sama. Menanti dalam gelap malam, dan bulan yang terlihat samar.
  • Rasa ini sesederhana aku memaknai segalanya tentang kita.
  • Diam-diam tanpa disadari, kita butuh 'tempat' atau 'ruang' untuk melabuhkan segala ketidak tenangan diri. Diatas sajadah dihadapan-Nya yang utama
  • Biarkan bulan berinteraksi sesukanya dengan bumi, sebelum digantikan oleh matahari di pagi nanti.
  • Aku selalu sempat menyisihkan waktu baginya yang ingin diperhatikan sinarnya. Jika ia ingin redup sekarang, yasudah aku pergi.
  • Jangan salahkan bulan bila ia lebih dekat dengan malam.
  • Bahkan aku tidak tahu kesalahan apa yang ku perbuat, sehingga malam berlalu dengan cepat.
  • Sedari awal pun, kita tahu bahwa akan ada yang ditinggalkan di dini hari yang sepi.
  • Intinya tidak ada alasan untuk mengakhiri cerita. Namun cerita itu harus diakhiri. Ternyata dengan pahit.
  • Seadanya, semampunya, sekuatnya.
  • Setengah empat pagi. Entah, rasanya sayang bila tiap detiknya dilewati begitu saja. Sekian. Akan ada yang baru di pagi nanti.
  • Aku sesederhana malam menyapa pagi dengan cahaya kemerahan tanda matahari akan kembali menampakan diri.
  • Kadang terlalu banyak kita menutup mata sampai-sampai tidak sadar tentang makna tulus itu. Masih sama malam ditemani hening
  • Langit masih sama mendung seperti kemarin, seperti awan yg lain.
  • Dan kini sepi mengiringi. Hanya ramai oleh perbincangan dalam pikiran-pikiranku saja.
  • Tetap menjadi bebek buruk rupa. Meski bulan telah menjadi purnama.
  • Kamu patut bersyukur . Kamu punya segalanya
  • Ada banyak tempat dan suatu saat, yang bahkan aku tidak tau apa-apa tentangmu. Hanya dapat mengira-ngira yang terjadi dibelakang sini.
  • Harusnya kamu itu 'saling' dengannya. 'saling' melengkapi, 'saling' berbagi, 'saling' bicara dan mendengarkan. bukan 1 pihak yg mendominasi.
  • 'saling' mencari tanda berarti. Bukan aku seorang diri.
  • Memang nyatanya aku tidak harus tau tentang segalanya. jika bisa tidak tau, kenapa harus cari tau, jika tau itu ternyata sakit.
  • Nikmati apa yang di miliki saat ini. sebelum semuanya hilang. ketika di kangenin seseorang, ketika bisa ketawa ya bahkan di saat masih bisa nafas dengan gratis. Sebelum dia pergi.
  • Ketika masih banyak hal yang bahkan aku tidak tau. Maka disisi mana aku bisa sombong? tidak ada. Karena manusia tidak berhak sombong.
  • Seandainya lengkungan pelangi itu dapat kuubah menjadi sebuah lengkungan senyummu.
  • sesungguhnya aku hanya makhluk sok tau. Karena aku tidak benar-benar mengenalmu~
  • Ketika malam meminta untuk berkesudahan, maka ini waktunya pagi menampakan diri. Dan kamu selalu begitu.
  • Untuk apa aku memaksakan sesuatu yg tak ingin terucapkan, jika begitu adanya, yasudah. Aku bisa apa.
  • Ada yang hilang ketika malam menjelang. Sampai berjumpa esok pagi, jika kesempatan masih ada.
  • Gelap memeluk malam. Hingar bingar nuansa kota, bisa senyap ketika kesunyian di cipta sendiri.
  • sepi sunyi sendiri, diatas jalinan lantai dingin meringkuk menatap langit-langit kamar penuh kerut.

Jumat, 30 Januari 2015

Baris Waktu-1

  • Kamu tidak benar-benar tau apa rasanya, sampai kamu benar-benar mencoba atau mengalaminya sendiri.
  • Dia tau dan sudah bisa membedakan mana yang spesial dan khusus, serta yang mana yang biasa saja. Meski dugaannya tak selalu benar.
  • Aku ngantuk. Terpejam karena bosan ku. Meringkuk, merindukan sesuatu yang tak pasti. Bermimpi seakan nyata yang ada pada lingkaran rindu.
  • Kita terus belajar. Sebaris demi sebaris. Memahami setiap hitam kata, mengajarkan pada yang lain, agar kita sama-sama mengerti.
  • Terkadang sahabat mu secara tak sadar menyuntikan semangat pada tubuh mu dengan cara ajaibnya sendiri, dan kamu perlu sendiri untuk menyadari.
  • Mungkin itu tanda aku harus berhenti bersajak membawa sosok mu.
  • Cerita romantis macam di dalam tebal buku dongeng atau novel, tidak akan habis. Terus saja di cari, meski endingnya pun kamu sudah tau.
  • Sepertinya bosan ku telah merenggut secuil demi secuil kata yang ku punya untuk dirangkai menjadi agak indah.
  • Warna cahaya sore ini bagus sekali, setelah mendung yang mendera. Nikmati saja, sebelum cahayanya menghilang
  • Seakan ada sesuatu yg menghimpit pikiran-pikiran ku, entah apa itu, tak ada yang tau, bahkan aku sekalipun.
  • Kini  jam digital handphone ku menunjukan pukul 10:12pm. Masih terlalu dini  untuk terlelap, mata ku masih siap siaga menyambut dini harinya.
  • Malam dan segala pelengkapnya selalu bisa membuat ku berpikir. Berpikir untuk senantiasa berubah menerangi sudut kamar hati mu.
  • 10:42 PM, lagi-lagi sang mata masih terjaga, belum ingin terlelap. setidaknya sang hati sedang bahagia malam ini.
  • 11:24 masih belum terlelap. Seperti biasa, berkhayal, berimajinasi tentang sesuatu yang mungkin mustahil.
  • 11:24 bersiap untuk kejutan-kejutan dalam hidup selanjutnya, entah akan bahagia atau malah terluka.
  • 12:05 Ini waktunya bermimpi, semoga saja tidak mengurangi kualitas tidur ku, bila kamu memasuki tiap inci dalam mimpiku. Sekian~
  • 07:33 sepertinya hari ini akan menjadi seru bila kita saling bicara lagi, berbincang, menyatukan pikiran.
  • 10:30 aku terdampar sendiri di sebuah pulau harapan, dengan sepasang sayap baru yang kan membawaku terbang keangkasa.
  • 10:54 sungguh aku masih menunggu balasan dalam kolom itu. Meski terkesan membuang waktu.
  • 10:57 di detik terakhir jam malam ini, biarkan segalanya terpapar jelas. Tentang harapan-harapan yang dimiliki lagi.
  • 10:59 berharap hujan turun menemani tidur, dan membiarkan kumemakai selembar jaket yang kita punya. Sama.
  • 11:06 aku ingin seperti mawar hijau. Kering namun tidak merubah warna tiap jengkal kelopak yang dipunya.
  • 12:12am. Entah. Inspirasi untuk sekedar menulis atau apapun itu lenyap begitu saja, seakan memang tak pernah datang.
  • 11:11pm. Tulisan atau sebuah karya yang dibuat dengan hati maka hasilnya akan indah. tapi jika inspirasi tak menghampiri, aku bisa apa?
  • 11:22pm, sandaran yang kamu miliki saat ini mungkin tak selalu benar, bisa saja kamu terjatuh saat kamu terlalu bersandar. kursi rusak.
  • 11:25pm, Gila ya, segimana kita tidak saling kenal secara nyata, tapi aku dapat menyimpulkan suatu hal dengan satu kata 'idaman'
  • 11:26pm, dan aku ingin seperti mu. apa adanya, mungkin polos, kuat, sabar. Dan entahlah, aku hanya mengenalmu melalui 'layar kaca'
  • 11:32pm dia berkata, kamu tidak pernah tau sampai kapan kamu dapat bernafas, maka dari itu aku lebih memilih untuk bermanfaat bagi yang lain
  • 10:19pm. Aku beku. Beku bersama kertas-kertas dan kawanya ini. Dikerubungi makhluk penghisap darah, dan mencairlah aku karenanya.
  • 11:59pm. sudah hampir tengah malam kan? apa ada yang melihat? Jika tak dapat melihat, coba rasakan dengan hati.
  • 12:56am. Melewati garis tengah malam. Dan aku tetap terjaga, berdiam diri, dan melayang lah ingatan ku pada dini hari yg sepi.
  • 12:58am, setidaknya inspirasi mulai kembali menepi, dan semangat ku mulai kembali ketempat harapan-harapan yang sempat ditinggal.
  • Tak terlupakan, belum berhasil dilupakan, atau enggan melupakan?
  • Cahaya orange itu mungkin indah, tapi mungkin juga mengganggu. Kenapa? Banyak 'sisa' kisah yang blm terbuang.
  • Dibalik jendela menatap siaran ulang kisah klasik yang telah usang.
  • Ini namanya, mengada-ngadakan sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah ada.
  • Bulan sabit dijam magrib tadi sedikit menggambarkan suasana hati yang memang sedang tercipta. Bagai senyuman.
  • Lagi-lagi diatas rumput yang basah, seperti yang sudah-sudah. Ada cerita didalamnya.
  • Ini tuh istilahnya kayak markir mobil terus depan belakang samping kanan+kiri ada mobil lain parkir juga. Mentok! gak bakal kemana-mana. kalo mau kemana-mana dan bisa jalan, ya tunggu mobil lain itu pergi, entah kapan, gak ada yang tau kan?. Ada solusinya sih, keluar dari mobil trus pergi. Naik kendaraan lain yang bisa kemana-mana.
  • Setidaknya dengan seperti ini, api itu bisa aku matikan. Entah untuk sejenak atau selamanya.
  • Dilantai 4 ini. Semua terlihat jelas. Kecuali 1 mobil yang msh terparkir di singgah sananya.
  • Tidak ada yang ingin ku katakan, dan tidak ada yang ingin ku tulis. Semuanya masih terasa abu-abu disini.
  • Kalo vas bunga udah pecah dan berserakan, mau di satuin lagi juga gak akan kembali sempurna kayak awal lagi. Akan ada bagian yang hilang
  • Andai aja semuanya sadar, kalo apa yang dilihat,didengar,dirasa itu semua cuma 'ilusi'
  • Aku pikir, bulan telah bersiap menghilang menutup malam, ternyata bulan masih terlihat di balik jendela. Semoga baik-baik saja.
  • Dan ketika lelah ku telah mencapai puncaknya, aku akan berhenti untuk selamanya, atau aku terhenti di persimpangan jalan, tanpa tau kemana tujuan, berbalik pun enggan.
  • Ketidak jelasan yg kelabu, seperti warna langit setelah hujan.
  • 00:16 selamat malam, selamat tidur, selamat merangkai bunga tidur
  • Dan detik ini pun, aku masih tetap terjaga menanti pagi datang. Sulit sekali memejamkan mata.
  • Aku sudah tahu ending film ini bahkan sejak awal film ini mulai. Lantas kenapa masih saja merasa heran?
  • 08:42pm, kerlap kerlip lampu nun jauh disana, sebagai pengganti bintang.
  • Setiap orang itu punya sudut pandang yang berbeda, menafsirkan arti berarti dengan berbeda. Ragam.
  • Kita nantikan saja, siapa yg akan bosan. Matahari yg menanti pagi datang, atau sang bulan yg setia menanti gelap tiba.
  • diatas lantai tertinggi di bangunan ini, aku kembali bermimpi berkhayal dan berharap. setidaknya sinar-sinar itu membuat harapan kembali ada
  • Selamat malam. selamat bermimpi. Semoga dapat terwujud pinta sang hati.
  • Berat adalah ketika tidak tau apa yang sesungguhnya diinginkan. Bukan masalah ingin sepertinya.
  • Kita putar saja terus menerus lagu kejujuran. Sampai besok matahari menampakan sinarnya.
  • Kalo aja bicara semudah menatap memberi isyarat.
  • Menyambangi atap sebelum terlelap. Sekian saja , semoga kamu siapapun itu mimpi indah.
  • Ketika realita tidak sesuai dengan harapan yang kamu idamkan, ketika itu pula keputusan harus ada.
  • Aku tak ingin mencari dalam keramaian lagi.
  • Semua tampak bahagia setelah hujan reda dan membuat segalanya menjadi basah dan sejuk