Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Desember 2018

Lima Bait, Sembilan Belas Baris untuk Sendu


Sendu, percayalah dengan perkataanku ini.
Mereka yang sudah seribu tahun lamanya pun masih bisa kandas bergitu saja.
Bagaimana dengan dirimu dan Rayu, yang baru saja berjalan dua tahun ini?
Masih sebesar biji  jagung perjalanmu, kata mereka.

Sendu, sadarlah bahwa kini Rayu telah berlalu.
Berlalu meninggalkan segala kenangan di pipi dan bibirmu.
Jika hujan datang sore ini, masuklah ke dalam derasnya.
Sambil berharap segala kenangan di pipi dan bibirmu terhapus musnah selamanya.

Sendu, sadarlah!
Tidak ada yang abadi di dunia ini.
Ingat, bahwa perpisahan selalu menghantui tanpa kenal lelah.
Mencipta luka cepat atau lambat kapanpun semesta menghendaki.

Sendu, meski kini Rayu telah berlalu.
Jangan ragu untuk maju.
Sebab semua hanya masalalu.
Yang harus kau jadikan pelajaran, untuk hidupmu.

Hai Sendu, jangan lupa dengan kalimat karya penulis Favoritmu ini
“Setia adalah pekerjaan yang baik, nak! Berangkatlah” (M Aan Mansyur)
.
.
Ya meski setia saja memang tidak cukup.


Untuk: Sendu
Dari: K, sahabatmu




Dokumentasi Pribadi: ftrrzkm.


ftrrzkm, 6:21 PM

Selasa, 05 Desember 2017

K Dan Kedinamisan Dalam Hidup


Ilustarsi hasil dokumentasi pribadi ftrrzkm

Hidup itu tidaklah statis
melainkan dinamis.
Selalu bergerak
dan berubah secara mendadak.

Tiap harinya
akan ada yang datang
dan akan ada yang pergi.
Tak jarang pergi tanpa meninggalkan pamit.

Hidup itu dinamis.
Hari ini dekat
besok jauh
siapa yang sangka?

Hari ini ceria
Besok duka tiada tara
Siapa yang mau?

Keadaan yang ada tak jarang rumit.
Tugas kita sebagai bagian dari hidup adalah menerima.
Menerima itu sulit
maka tak ada salahnya belajar terlebih dahulu.
Ya belajar menerima keaadaan yang nyata
bukan angan-angan atau ekspetasi yang terkadang menyakiti.

Jatuh itu biasa.
Yang luar biasa itu
sudah jatuh tertimpa tangga
namun dapat berdiri lagi dengan tangguh setelahnya.

Seseorang pergi karena suatu alasan.
Sahabat pergi meninggalkan kesan.
Meski aku tidak pernah tahu alasanmu.
Tetapi kamu tetap berkesan bagiku.
Karena kamu seseorang
yang telah kuanggap sahabat sejak kecil
kita bersenda gurau bersama.

Semoga bahagia.
Aku telah menerima segala
keadaan nyata yang ada.
Tak ada lagi ekspetasi apapun
tentang persahabatan kita
yang entah kamu anggap apa.

Hidup itu dinamis
dahulu kamu musuh beratku
lalu kamu menjadi temanku
lama-lama kuanggap sebagai sahabatku
kemudian karena suatu alasan
kamu pergi tanpa pamit dan jejak.

Sekian saja.
Tanpa panjang lebar
kamu pasti mengerti arahnya akan kemana.
Semoga bahagia.
Dan semoga dapat selalu menerima
kedinamisan dalam hidup ini.

K
Seseorang yang menganggap kamu sahabat.


28/11/17

Senin, 06 November 2017

Puing-puing Gedung


ilustrasi by ftrrzkm

Sadar bahwa akulah penyebab rusaknya gedung itu.
Sadar bahwa akulah penyebab runtuhnya gedung itu.
Ya, gedung yang sudah kita bangun selama hampir tiga tahun belakangan.
Maka jika kini kamu berpaling dengan yang lain
entah untuk membangun gedung baru, atau sekedar bermain-main saja
maka aku tidak berhak untuk sedih dan protes atas itu semua.

Jika kamu bertanya, bagaimana dalamnya hatiku
jawabnya masih sama, kamu!

Kini segalanya tinggal puing-puing
Aku masih mengumpulkan puing-puing itu,
berharap kamu kembali dan kita kembali menyusun segala puing itu.
Nyatanya ketika kumasih mengumpulkan puing itu.
Kamu telah berlalu pergi, semakin jauh seakan tidak ada peluang lagi.

Lantas, apa yang bisa kulakukan?
Jika mengejar saja sudah tidak ada kesempatan lagi?
Ya, hanya tersenyum membaca kisah yang abadi dalam tulisan-tulisan indahmu.

Malam ini tawaku memuai diudara, bagusnya tidak diiringi tangisan.
Tawa karena membaca kisah dua sampai tiga tahun lalu
dimana aku masih sangat polosnya mengenal apa itu cinta.
Dan aku memilih kamu, untuk dewasa bersama pertanyaan, “apa itu cinta?”

Kini semua rusak sudah, karena aku yang tidak mengerti kamu.
Karena aku yang salah tingkah, dan membuat pemberontakan terus menerus.
Menyakiti kamu, yang seharusnya kujaga selalu.

Hujan turun lagi malam ini
tidak ada lagi “Hujan Punya Cerita: Aku dan Kamu Di bawah Jaket Hitam”
atau “Hujan Punya Cerita: Hujan Tahu Kita Berdua”

Jarak semakin jauh, maka tidak ada lagi ”Saling: Membuat Kita Berjarak 0 Centimeter”
Dan aku sudah lama tidak menyesap secangkir kopi,
Karena merasa takut, lambungku akan menolaknya.
Maka tidak adalagi The Coffe Lady.

Dan kini kumerasa lapar tengah malam,
namun tidak ada lagi, Nasi Goreng Bumbu Kuning (Abstrak) yang tersaji.

Dan aku masih percaya bahwa ini “Bukan Kebtulan, Tapi Memang Rencana Tuhan
Semoga.



Ftrrzkm
7 November 2017
1.30 AM



Sabtu, 04 November 2017

Kamu yang Lalu

ilustrasi pribadi oleh ftrrzkm


Mencarimu sulit bagiku.
Ketika aku bertemu teman-teman semasa sekolah dulu, 
mereka menanyakanmu. 
Aku tak tahu harus menjawabnya bagaimana.
Hanya senyuman getir yang terbentuk dari bibir.
Kamu sudah menjadi masa laluku, jadi, untuk apa menjadi masalahku?

Sayangnya, meski memang bukan masalahku,
pertanyaan teman masa sekolah dulu,
kembali mengorek segala ingatanku tentang kenangan kita.
Tentang kisah manis masa remaja kita,
sampai kisah tragis masa dewasa kita karena sebuah perpisahan itu.

Malam semakin larut,
mataku belum juga mau tertidur.
Kuambil secarik kertas hanya untuk sekadar menuliskan namamu.
Hanya menuliskan namamu berulang-ulang,
meski kenangan manis kita tidak akan bisa diulang.

Secarik kertas itu kini sudah penuh oleh namamu,
ya hanya namamu saja.
Namun seberapa banyak pun kutulis namamu,
kamu tidak akan pernah kembali juga.
Kenapa? Jawabnya karena genggam tanganmu telah terisi oleh tangan lain,
melangkah jauh di depanku,
yang masih memikirkan penyesalan atas apa yang terjadi di antara kita.

Bukan cinta bila tak terus bersama,
bukan kasih bila kau tak memilih.
Aku dan semua yang kukorbankan demi kamu.
Waktu dan pikiranku.
Rasa senang, rasa nyaman itu.
Semua telah berlalu.
Kini aku terkoyak kenangan, tersandung keadaan.

Ingin kukeluar dari bayang-bayangmu.
Namun senyummu dan kehangatanmu terus tampak di hadapanku,
seolah mengolok-olok diriku
yang hampir setiap hari, masih mengharapkan kamu kembali.
Namun mengingat tentangmu yang manis, hanya membuatku teriris.
Inginku tinggalkan segala pahit manisnya cinta denganmu,
namun aku tidak tahu bagaimana caranya.

Beralih kuambil gawai mungil kesayangan,
tanpa kusadari
jariku menuju pesan-pesan yang pernah kaukirim padaku.
Betapa aku dan kamu begitu akrab, 
begitu mesra, begitu dan begitu.
Begitu sampai di pesan perpisanan antara kamu dan aku.

Air mata menetes lagi,
kini kuputuskan untuk menghapus manis demi manis sampai pahit pesan
yang telah kita rangkai selama hampir tiga tahun ini.
Aku tidak ingin membaca dan mengenangnya lagi,
hanya mencipta sedih dan sepi saja, sadar jika kamu telah pergi.

Lelah, aku pun tertidur dengan berteman senandung lagu.

Sadari diriku pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata

Dee Lestari - Peluk

colab bareng kak Galih Setio Utomo

Rabu, 15 Maret 2017

Racauan Oleh Dia yang Menganggap Dirinya Bodoh


Tujuh hari dalam satu minggu.
Jika aku meminta delapan hari
apakah minggu mengizinkan?
Aku sudah menghabiskan akhir pekan
dalam sebuah kotak gelap
ya kotak yang sangat gelap.
Lalu haruskah aku menjalankan sisa hari dengan kegelapan pula?

Aku seakan tidak mengenal siapa diriku.
Dan karena hal itu, kubutuh delapan
ya delapan saja dalam seminggu.
Namun jika minggu mengizinkan
aku ingin sepuluh, ya sepuluh!
agar genap dengan dua goresan
satu dan nol.

Sore dan aku dipenuhi dengan kebodohan
jika seperti ini bolehkan aku meminta waktu mundur?
Dan tentu membuat hariku jauh dari malam.
Cepat tua, cepat keriput, mungkin itu yang terjadi kepadaku.
Dan sepertinya segala apa yang terjadi kepadaku
itulah yang memang pantas untukku
sekalipun diriku yang akan mengalami penuaan dini.

Tidak perlu menuntuk kebahagiaan, bukan?
Karena manusia sepertiku tidak pantas, sepertinya.
Bahkan untuk menuntut apapun.
Ya begitulah, karena aku dipenuhi oleh kebodohan.

Ftrrzkm.

Tulisan tangan berantakan, dibuku catatan semester satu.

Jumat, 14 Oktober 2016

Semoga Aku Bukan Psikopat


Jikalau aku punya keberanian.
Akan kutusukan pisau tepat diurat nadiku.
Biar berhenti segala denyut nadi,
Mengakhiri segala hidup tanpa aura semangat yang menyiksa.

Atau….

Jikalau aku punya keberanian.
Akan kudatangi kamu tengah malam
menusukan pisau tepat dijantungmu
agar merobek denyut jantungmu
dan pergilah kamu meninggalkan dunia ini.

Oh sayang sekali.
Aku manusia takut hukum.
Akan sengsara hidupku di dalam sel sana.
Dan sayang sekali.
Aku manusia takut dosa.
Menghentikan detak jantungmu pun aku berdosa.
Lebih lagi jika aku menghentikan denyut nadiku sendiri.
Akan tidak tenanglah diriku dalam kematian.
Tidak akan diberikan tempatlah aku di akhirat sana.

Nyatanya..
Aku masih punya akal.
Masih benar sadar akan apa yang aku lakukan.
Meskipun ingin sekalipun
jika buruk, tidak akan kulakukan, mungkin.


Semoga aku bukan psikopat.

ftrrzkm-

Rabu, 03 Agustus 2016

Kamu



1

Jatuh cinta pada teman lama, salah kah?
Dia teman masa remajaku di Sekolah Menengah Atas.
Sungguh dia sangat berbeda sekarang.
Proses pendewasaan diri telah mengubahnya menjadi sosok bidadari.
“Apa kabar?”
“Baik, kamu?”
“Terasa menjadi lebih baik setelah bertemu kamu lagi”
Dia tertawa mendengar jawabanku, lihat lah tawanya itu.
Sungguh acara reuni ini membuat aku kehilangan akal sehat.
Padahal dulu dialah teman yang paling sering menjadi korban keisenganku.
“Kenapa kamu tertawa Winda”
“Bercandaanmu sangat konyol, kamu masih saja menyebalkan, sama seperti dulu Ki”
“Apanya yang menyebalkan?”
“Kamu baru saja menggoda istri orang. Aku permisi ke suamiku dulu ya”

***

2

Tiada yang lebih indah selain melihat tawamu.
Aku rela melakukan hal bodoh dihadapanmu, demi melihat tawa itu.
Setelah kamu menertawai kebodohanku, aku akan berpura-pura merajuk kepadamu, agar kamu membujukku.
Kamu adalah pria yang membuatku tergila-gila.
Membuatku kecanduan untuk terus menatapmu, di gelap malam sekalipun.
Aku telah jatuh cinta sangat jauh padamu.
Sampai-sampai aku rela kamu terus menertawaiku karena perbuatan isengmu yang berhasil membuatku tampak bodoh.
Sayangnya, kita tidak bisa seperti itu lagi.
Malam ini kita dipertemukan lagi, dan aku masih jatuh cinta padamu.
“Apanya yang menyebalkan?” tanyamu, setelah sedikit merayuku.
“Kamu baru saja menggoda istri orang. Aku permisi ke suamiku dulu ya” jawabku

***

3

Sore di pantai Bali itu, aku senantiasa memperhatikanmu.
Memperhatikan Setiap gerak-gerik langkah kakimu, dan gerak-gerik matamu.
Aku hanya ingin tahu, sosok mana yang sedang kamu telanjangi dengan matamu itu.
Setelah aku tahu, pupuslah harapanku pada sore hari yang sakit itu.
Tahun-tahun berlalu tanpa kusebut namamu.
Tuhan berkata lain, pada matang usia kita.
Aku mendapatkanmu Winda.
Semua terasa sempurna sampai akhirnya matamu berkata lain padaku.
“Mas, Aku tadi bertemu dengan Rizki disana”
Lihatlah binar matamu itu Winda, “Oh ya?”
“Iya mas, dia masih seperti dulu”
Ah aku terluka oleh kata yang kamu lantunkan dengan Binar dimatamu itu Winda.
Sungguh acara reuni ini terasa seperti sore di pantai Bali yang sakit tempo dulu

Minggu, 24 Juli 2016

Hujan Pernah Menakutkan




Hujan pernah menakutkan.
Dibalik ketenangan tetesan airnya, hujan pernah menjadi sangat mengerikan.
Membuat diri enggan menengoknya, barang sebentar saja.

Hujan di bulan desember.
Di tepi pantai kuta, memandang punggungmu dari ke jauhan.
Hujan pernah menjadi sangat indah saat bersamamu.
Pernah juga membuatku duduk melipat kaki ketakutan dihadapanmu.
Hujan pernah menjebak kita bersama ditengah badainya.
Dan kini, aku meringkuk sendirian menikmati suara-suara hujan dari luar sana.
Tanpa ada kamu, tanpa mencipta kenangan tentang kita lagi.

Mungkin kamu sudah melupakanku, namaku mungkin.
Tidak masalah, setidaknya hujan bulan desember senantiasa menyimpan titik-titik kenangan kita.
Kenangan kita yang kuanggap milik kita bersama, padahal hanya milikku saja.
Hanya aku yang menganggapnya nyata.

Hujan bulan desember, di balik jendela.
Menyisakan butiran-butiran bening di jendela.
Mencipta embun dingin
tubuh gigil, daun dan tanah yang basah.
Semua itu tetap terasa indah, meski tanpamu lagi.

Hujan di bulan desember.
Pernah menyenangkan.
Pernah meretas duka.
Mencipta ketakutan dalam diri.

Sepertinya aku masih menyimpan sedikit untukmu.
Menyimpan harapan.
seperti langit yang berharap pada hujan dan matahari agar mencipta pelangi setelah hujan.
Atau barangkali tidak sama sekali?

Hujan pernah menakutkan.
Berharap kita yang menakutkan, menjadi cerah ceria pada waktunya.


Ftrrzkm


Kamis, 23 Juni 2016

Wanita yang Diam-diam Memperhatikanmu

Jangan lupa mengelap sepatumu malam ini
agar esok tidak terlambat lagi.
Jika kamu terlambat
akan ada wanita yang senantiasa mencari punggungmu
yang diam-diam memperhatikanmu.

Wanita itu tentu kamu tahu namanya
namun tidak dengan rupanya.
Bagaimana dengannya?
Wanita itu tentu mengenal namamu
dan tentu mengetahui bagaimana rupamu.

Tampan.
Terlebih jika senyum bersangkar di wajahmu.

Tentang wanita itu?
Tidak perlu khawatir
secepat mungkin akan kamu ketahui bagaimana rupanya.

Namun, tunggu dulu
jangan terlalu berekspetasi tinggi.
Wanita itu hanyalah wanita biasa
tidak cantik, tidak putih, tidak modis, sangatlah biasa.
Berjanjilah tidak akan menyesal setelah mengetahuinya?

Percayalah.
Tidak sulit untuk mengetahui siapa wanita itu.

Jika kamu bertanya bagaimana caranya?

Mari kuberi tahu.
Janganlah kamu mengelap sepatumu malam ini
lakukan lah esok pagi
datang lah seterlambat mungkin
agar sebuah hukuman menghampirimu.
Perhatikan dengan seksama
dan lihat lah sekitarmu
carilah wanita yang ekor matanya senantiasa mengikuti gerak-gerikmu
itulah wanita yang diam-diam memperhatikanmu
dan menginginkan punggung lapangmu.

Sudahkah kamu menemukannya?
Jika sudah, beri tahu aku.

Karena aku adalah wanita itu.
Wanita dengan ekor mata yang menginginkan punggungmu.

Ftrrzkm.
23/6/2016

28/8/2014 (Aku menemukanmu)

Sabtu, 30 April 2016

Mawar di Atas Kasur

Suatu pagi aku menemukan setangkai mawar diatas kasur.
Berbeda dari yang lain.
Warnanya secerah matahari di sore hari.
Segar dipandang bagai embun kala pagi datang.

Suatu waktu
Aku lihat dia layu
Kelopaknya berjatuhan bergiliran.
Bagai tampak lelah menghadapi dunia.

Mengapa?
Apa karena ia tidak sepopuler kawannya? Mawar merah?
Apa karena ia tidak tampak lembut seperti mawar putih?
Apa karena ia tidak mengagumkan seperti mawar biru dan hijau? Langka.

Mengapa ia begitu peduli?
Bukankan ia juga memiliki keistimewaan tersendiri?
Sebuah keistimewaan bagi orang-orang yang mencintainya.
Jika layu seperti ini, maka yang mencintainya akan merasa sedih atas itu.
Orang-orang yang benar mencintai dan menyayanginya.

Mawar yang kini berada diatas kasurku.
Percayalah, kamu indah tak kalah indah dengan mawar lainnya.
Tetaplah cerah, tetaplah segar, berbahagialah, seperti apapun dirimu.

Itu kapasitasmu.


Ftrrzkm
dengan setangkai mawar ditangan.


Kamis, 07 Januari 2016

Hujan Turun Lagi


Setelah sekian lama tanahku mengering.
Karena air dari langit enggan menetes sedikitpun.
Semua bersedih karena kering yang telalu lama.
Semua berdoa, semoga awan-awan cepat menangis.

Malam ini, doa sampai pada pengabulan.
Langit mendung, Hujan turun, dan basahlah semua.
Meski hujan hanya rintik-rintik semata.
Setidaknya kemarau mulai beranjak pergi.

Hujan turun lagi.
Dan mataku tidak lagi musim kemarau.
Karena hujan sudah datang membasahi pipi.
kini, saatnya berharap hujan pergi, lalu datang pelangi.

Hujan datang lagi.
Dan tanaman kering bahagia menyambut tiap tetesnya.
Tanahku sudah basah lagi.
Dan langit bisa dihiasi pelangi.
Tentu senyumku sudah kembali
karena kemarau dan hujan sudah berlalu dari mataku.

Hujan di penghujung tahun kembali.
Membawa kabar bahagia tentang kita.
Semoga.

ftrrzkm.