Tampilkan postingan dengan label kesempatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesempatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 November 2018

Rumahmu

foto by ftrrzkm


Berlari-lari kamu dalam pikiranku
setiap hari, ya setiap hari.

"Kapan mau berhenti?"
"Menjadi sebuah aksi nyata dalam hidup"
 kataku kepada diri sendiri.

Nyatanya kini kubermain dalam maya.

Melalui tulisan-tulisan mini yang kutulis sendiri.
Entah akan sampai padamu atau tidak.

Seharusnya tidak seperti ini.
Sebab, siapa kamu?
Sungguh aku tidak tahu menahu perihal kamu.

Jikalau diibaratkan sedang bertamu ke rumahmu.
Saat ini sampai ke beranda rumahmu saja aku belum
ah bahkan pagar rumahmu saja masih jauh.

Jadi, bolehkah aku mengenalmu lebih jauh?
Maukah kamu mengenalku lebih jauh?
Agar sampai dan dapat aku masuk kedalam sana.
Rumah hatimu.



Kuharap disana belum ada yang menetap.
Semoga.


ftrrzkm

Selasa, 19 Desember 2017

Gerakan FIS Mengajar- first time to be a volunteer


Kalau Raisa punya kali kedua maka Fitri punya kali pertama, kali pertama menjadi Volunteer. Kejadiannya sudah sebulan yang lalu, tepatnya ditanggal 18-26 November 2017. Pada kesempatan kali itu, saya menjadi Volunteer dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial (FIS), tempat saya menimba ilmu di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sesuai dengan nama penyelenggaranya maka kegiatan itu pun di beri nama Gerakan FIS Mengajar (GFM).
Gapura Kampung Sindang- dokumentasi Pribadi
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya GFM diadakan selama seminggu, dan berlokasi di Kampung Sanding, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan sosial tersebut sebenarnya bersifat umum, mahasiswa dari luar FIS pun sangat diperbolehkan berpartisipasi jika ingin menjadi bagian dari kegaitan GFM tersebut. Sesuai dengan namanya, maka kegiatan GFM ini adalah mengajar, namun tidak menutup diri bahwa ada kegiatan lain diluar mengajar yang bersifat pengabdian kepada masyarakat.

Meski hanya diadakan selama seminggu, GFM ini memberikan banyak sekali pengalaman. Mulai dari pengalaman menginjakan kaki di sawah, mengikuti pawai MTQ, menyusun atau mengkategorikan buku-buku untuk perpustakaan di madrasah, bermain bersama anak-anak, mengajarkan membaca, berhitung, menyanyi lagu Hymne Guru, dan menjadi MC di seminar untuk masyarakat setempat.

Saat mengajarkan membaca di home stay
Dari semua pengalaman itu, ada pengalaman baru ada juga yang memang sudah pernah saya lakukan, tetapi memang lebih dominan pengalaman barunya. Ada pun pengalaman baru tersebut, seperti pengalaman mengajar Sekolah Dasar. Bukannya tidak suka anak-anak, hanya saja saya jarang sekali memiliki kesempatan untuk bercengkrama dengan anak-anak kecil. Hal ini terjadi akibat latar belakang saya yang merupakan anak terkahir dari dua orang bersaudara, dan jarang bertemu dengan keluarga besar (sepupu, ponakan, cucu) karena lokasi yang jauh. Latar belakang tersebut membuat saya menjadi sangat jarang ngemong anak kecil, sehingga merasa sulit ketika harus berinteraksi dengan anak kecil. Melalui GFM ini, saya pada akhirnya menjadi  sedikit lebih lugas berinteraksi dengan anak-anak, tanpa disangka-sangka ternyata saya bisa juga membimbing anak kelas 2 SD untuk belajar membaca dan berhitung, sungguh melegakan.

Selanjutnya pengalaman mengajar menyanyi. Saya yang  sejak sekolah tidak pernah suka pelajaran bernyanyi, karena merasa malu bernyanyi di depan umum, akhirnya melalui GFM saya berani juga bernyanyi di depan umum. Semua berawal dari saya yang harus mengajarkan kepada siswa kelas 6 SD lagu Hymne Guru, yang akan dinyanyikan untuk memperingati hari guru. Tanpa rasa canggung, saya pun akhirnya berani menyanyi di depan kelas memberikan contoh kepada anak-anak, kemudian membimbing mereka untuk bisa menyanyikan lagu Hyme Guru sendiri tanpa iringan saya. Saya sangat tidak menyangka dan merasa senang atas hal ini.



berfoto bersama di jam istirahat sekolah

Menjadi MC dalam seminar pun merupakan pengalaman baru (lagi) bagi saya. Terakhir menjadi MC sebelum GFM itu saat kelas 2 SMA (kalau tidak salah) menjadi MC untuk kegiatan buka bersama anak yatim piatu di sekolah, sudah lama sekali kan. Kemudian saya yang masih suka malu-malu berbicara di depan orang banyak sebagai pemandu acara, akhirnya ditunjuk menjadi MC dan saya mengiyakan karena memang tujuan mengikuti GFM ini untuk berkontribusi dan belajar sesuatu yang baru. Ya meski amatir, meski belum sempurna, saya cukup senang sudah berani (lagi) menjadi MC sebuah kegiatan.

Yang tidak kalah seru dan heboh, pawai MTQ. Sungguh ramai dan heboh sekali acara ini, bertemu, dan berinteraksi dengan banyak orang merupakan hal positif yang saya dapatkan. Melihat antusiasnya masyarakat mengikuti pawai MTQ ini, membuat semangat diri ini, dan membuat saya merasa sangat senang serta beruntung sudah masuk menjadi bagian GFM.
berjalan kaki menuju kegiatan pawai MTQ

Meriahnya pawai MTQ































Ya meskipun tidak mengikuti kegiatan sampai hari terakhir, dan harus sudah pulang duluan di hari kamis tanggal 23 November karena suatu hal penting, tetapi saya merasa sangat senang dan merasa begitu penuh dengan pengalaman baru yang tidak akan terlupakan. Ah, sungguh ramah-ramah sekali masyarakatnya, membuat betah berlama-lama mengabdi disana.

Semoga jaya selalu, Kampung Sanding, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten. Salam rinduku untuk alammu yang indah, dan masyarakat yang ramah. Terimakasih GFM, telah menorehkan kisah baru dalam hidupku.
Ftrrzkm
19/12/17


Jangan pernah takut untuk melakukan suatu hal baru yang bersifat positif. Takutlah untuk melakukan suatu hal baru yang bersifat negatif. Jangan ragu untuk mengexplore diri mencari pengalaman berharga, dan menjalin relasi baik dengan orang lain. Karena kita adalah makhluk sosial yang akan terus berinteraksi dengan sesama” ftrrzkm.

Selasa, 31 Mei 2016

Mensyukuri Nikmat Menempuh Pendidikan

31 Mei 2016

UNJ ramai, bukan ramai oleh mahasiswa berbaju merah dan beralmet yang seperti kemarin, melainkan hari ini UNJ ramai oleh banyak calon mahasiswa baru yang sedang berburu perguruan tinggi negeri dan yang sedang melakukan berbagai macam registrasi agar resmi menjadi mahasiswa UNJ.

Bejalan diantara keramaian ini membuat saya menjadi merasa kembali ke kira-kira dua tahun lalu, saat sedang berusaha untuk mendapatkan perguruan tinggi negeri yang diharapkan.

Hari ini sedang diadakan ujian SBMPTN di UNJ, yang membuat UNJ dipenuhi oleh orang tua dan anaknya. Ada orang tua yang duduk menunggu anaknya selesai ujian, ada juga orang tua yang duduk menunggu anaknya selesai melakukan registrasi untuk menjadi mahasiswa UNJ.

Yang terlihat adalah, wajah orangtua yang penuh harap, wajah orang tua yang merasa bangga karena bisa sampai menyekolahkan anaknya sampai 12 tahun dan sebentar lagi memasuki perguruan tinggi.

 Ya memang dua tahun lalu, saya tidak mengalami fase ujian SBMPTN ini, tetapi rasanya hati begitu gembira melihat keramaian ini. Melihat bahwa pendidikan masih sangat diperlukan di Indonesia ini, sehingga masih banyak dan ramai calon mahasiswa yang mengejar pendidikan di tempat yang mereka impikan atau yang menurut mereka terbaik.

****

Pesan untuk yang masih bisa mengenyam bangku pendidikan di perguruan tinggi


Hai, kakak-kakak mahasiswa.
Bagaimana kuliahnya?
Sudah mulai merasa rumitkah dengan mata kuliah yang sedang ditempuh?
Bagaimana dosen-dosennya? Bervariasikan?

Alhamdulillah ya kita masih diberikan kesehatan serta rezeki lebih sehingga masih bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi.

Alhamdulillah juga orang tua kita masih mampu menyisihkan rezekinya untuk menyekolahkan kita sampai saat ini.

Sadar atau tidak, kita seharusnya memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin. Datang ke kampus, masuk kelas, memperhatikan materi yang diberikan oleh dosen dengan seksama, mengerjakan kewajiban kita sebagai mahasiswa (Belajar dan mengerjakan tugas). Tapi sering sekali ya, rasa malas itu menghinggapi kita, hal yang manusiawi memang, tetapi bukankah rasa malas itu harus dilawan bukan dipelihara?

Menurutku pribadi, jika kita tidak menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa, itu sama saja kita menyia-nyiakan kesempatan yang kita dapatkan untuk dapat berkuliah. Banyak sekali di luar sana yang menginginkan untuk kuliah namun nyatanya belum berkesempatan karena berbagai hal. Main? Refreshing? Boleh saja, tidak ada yang melarang. Namun kembali lagi kita harus mengingat kewajiban kita sebagai mahasiswa,jangan lalu karena main dan refreshing kewajiban kita menjadi terbengkalai, atau bahkan sampai menyusahkan orang lain.

Mensyukuri nikmat Tuhan atas kesempatan berkuliah ini, sederhana saja menurutku pribadi yaitu dengan menjalankan kewajiban sebaik mungkin. Miris rasanya ketika melihat masih banyak orang yang sudah mendapat kesempatan berkuliah kemudian menyia-nyiakannya begitu saja.

Ya sekian saja, semoga kita semua tidak termasuk kedalam orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatannya untuk berkuliah, menyia-nyiakan kesempatannya untuk mendapatkan pendidikan J.

”ingatlah masa-masa dimana kamu sedang berada dalam fase sulitnya mencari perguruan tinggi yang diidamkan. Maka ketika kamu sudah mendapatkan jalan atas kesulitan itu jangan sia-siakan, manfaatkanlah sebaik mungkin J

Rabu, 18 Juni 2014

Hidup dan Kesempatan yang Berbeda



Aku melihat kejujuran dalam dirinya, anak-anak kecil itu.
Jujur tutur katanya, tak ada yang di tutup-tutupi.
Polos pola prilakunya, membuat siapa saja yang melihatnya dengan mudah tertawa.
Tawanya begitu bebas, benar-benar bebas tak ada paksaan.
Tatapan matanya yang tulus membuat hati siapa saja luluh melihatnya.

Tapi coba tengok keluar.
Ada beberapa diantara mereka yang beruntung, dan sisanya? Ada pula yang terluka oleh keadaan.
Himpitan ekonomi terkadang menuntutnya menerjang teriknya matahari di ramainya jalan raya.
Entah benar tuntutan ekonomi atau sesuatu yang lain yang membuatnya seperti itu.
Putus sekolah, waktu bermain pun terenggut, yang mereka tau hanya bagaimana mencari uang untuk sesuap nasi saja.

Terkadang aku berpikir kemana orang tuanya? Yang seharusnya melindungnya? Memnuhi kebutuhannya?, seperti orang tua lainnya.
Tapi tak pernah terjawab pertanyaan itu, terlalu rumit mungkin.
Aku pun tak bisa membaca keadaan sebenarnya.

Beruntungnya aku tak pernah merasakan hal seperti itu, sekolah ku terus berjalan sampai saat ini akan ke perguruan tinggi.
Beruntungnya aku tak pernah merasakan hal seperti itu, masa bermain saat kecil ku sangat indah membuatku banyak belajar.

Tapi mereka membuat ku belajar, belajar bahwa hidup itu tak mudah, mungkin keras, dan banyak rintangan yang harus dihadapi.
Meraka membuat ku semakin mensyukuri nikmat yang ku punya, karna tak semua orang punya kesempatan yang sama.
Aku tau meraka-pun ingin sekolah, ingin bermain, ingin mengejar cita-citanya, siapa yang tak tahu?.
Yang mereka butuhkan hanya kesempatan.

Ya kamu benar tentang itu
Tentang kita yang seharusnya memanfaatkan kesempatan yang kita punya dengan sebaik-baiknya, bukan malah mengabaikannya dan menyia-nyiakannya begitu saja.