Kamis, 07 Januari 2016

Hujan Turun Lagi


Setelah sekian lama tanahku mengering.
Karena air dari langit enggan menetes sedikitpun.
Semua bersedih karena kering yang telalu lama.
Semua berdoa, semoga awan-awan cepat menangis.

Malam ini, doa sampai pada pengabulan.
Langit mendung, Hujan turun, dan basahlah semua.
Meski hujan hanya rintik-rintik semata.
Setidaknya kemarau mulai beranjak pergi.

Hujan turun lagi.
Dan mataku tidak lagi musim kemarau.
Karena hujan sudah datang membasahi pipi.
kini, saatnya berharap hujan pergi, lalu datang pelangi.

Hujan datang lagi.
Dan tanaman kering bahagia menyambut tiap tetesnya.
Tanahku sudah basah lagi.
Dan langit bisa dihiasi pelangi.
Tentu senyumku sudah kembali
karena kemarau dan hujan sudah berlalu dari mataku.

Hujan di penghujung tahun kembali.
Membawa kabar bahagia tentang kita.
Semoga.

ftrrzkm.

Minggu, 27 Desember 2015

Nada-nada Magis

Kalimat manis
penuh rayuan dan magis
Berisi kebahagiaan atau kesedihan
Diiringi nada-nada indah
Penuh cinta dan bunga
Atau
Luka dan air mata

Menikmati bersamanya
Atau
Menikmati bersama air mata
Pilih saja yang kau suka

Di tengah keramaian
Atau dalam sunyinya rongga kepala
Ujung ruang penuh keheningan

Boleh menari dalam iringannya
Atau menari dalam peluknya
Sekalipun tidak, bukanlah masalah

Bergumam, atau dengan suara lantang menarik perhatian
Sekalipun tidak merdu
Bukan sesuatu yang diharamkan
Hanya sedikit mengganggu

Begitu ceritanya
Begitu terciptanya, Puisi
Yang entah, dapat disebut puisi atau tidak
Terserah padamu
Diiringi lagu penuh kesedihan dan kebagiaan yang disimpan
Disimpan menjadi sumber inspirasi

Tentang nada-nada penuh makna
Tentang sebuah tarian indah
Tentang lirihnya sebuah gumaman
Dan tentang tidak merdunya suara lantang
Dalam peluknya, atau peluk sendiri
Dalam keramaian, atau keheningan kepalamu

Sekali lagi begitulah  puisi ini tercipta.
Bersama lagu-lagu dalam kepala
yang mengiringi, dan diulang berkali-kali

ftrrzkm
bersama dengan lagu favorit
puisi ini tercipta

Selasa, 01 Desember 2015

Tiga Dalam Satu?

Mungkin ada dua, atau tiga sosok dalam tubuhku.
Mungkin terdengar aneh.
Atau mungkin menyeramkan.
Namun, itu yang terasa.
Detik pertama aku bisa marah sekeras-kerasnya.
Tak lama, aku bisa menangis sejadi-jadinya.

Kemudian, tertawa sekencang-kencangnya.

Ya.
Aneh!

Sekejap menjadi anak kecil penuh dengan rengekan
Sekejap menjadi wanita penuh dengan khayalan dikepalanya
Sekejap kemudian menjadi pria yang sungguh dewasa dan realistis

Aku mungkin gila
Mungkin juga tidak

Aku mungkin hina
Mungkin juga tidak

Aku mungkin sendirian
Mungkin juga tidak

Dan

Mungkin aku kesepian
Mungkin juga itu benar

Anak kecil dalam tubuhku sering tertidur
Namun sewaktu-waktu akan terbangun juga
Dia lebih manja dari anak sematawayang kesayangan ibu
Atau anak bungsu kesayangan ayah
Dia suka sekali sesuatu yang manis, lebih dari permen sekalipun
Dia terkadang menangis tanpa sebab
Merengek dan merajuk

Kemudian
Kembali tertidur
Polos
Dan penuh dengan ketenangan
Anak kecil dalam tubuhku
Sedang terbangun, dan meminta untuk segera di nina bobokan kembali.

Sewaktu-waktu wanita penuh khayalan itu menyambangi diri.
Dia penuh dengan hal manis, sesuatu yang anaak kecil dalam tubuh sukai.
Dia penuh dengan haaraapan-harapan indah dalam benaknya.
Dan dia sering kecewa karena perbuatannya sendiri.

Mudah rapuh
Dan, mudah terluka
Mungkin juga sulit menerima kenyataan

Wanita penuh khayal  di kepalanya, dalam tubuhku
Sedang menyambangi, dan minta untuk ditemani
Agar kesepian tidak merusak khayalan dalam kepalanya

Yang paling langka
Pria dengan kedewasaan dan pikiran realistisnya
Ia dikunci
Ia dikurung
Dan
Ia dipasung

Jarang sekali menampakan diri
Sesekali mungkin tampak
Namun diri dikuasai wanita dengan khayal dikepalanya

Ia sangat bijak, dan penuh dengan kesabaran
Ia begitu tenang mengambil keputusan

Pria dengan kedewasaan dan pikiran realistisnya dalam tubuhku
Sedang berharap untuk dibangkitkan kembali
Sedang berharap lepas dari kurungan yang dikunci dan pasung yang membelenggu diri.

Ya
Terdengar gila dan aneh
Mungkin menyeramkan

Namun
Begitu adanya
Tiga dalam satu
satu yang memperjuangkan diri untuk lebih normal.

Sabtu, 28 November 2015

Menghayati Alam dengan Sederhana

Aku ingin menghayati alam dengan sederhana dan dengan seksama.
Memperhatikan tanpa cela, memuji tanpa hina.
Mensyukuri tentu tiada habisnya, ciptaan-Nya yang sempurna.
Meski compang camping pada alam ada dimana-mana.
Compang camping yang dicipta tangan jahil manusia.

Sesederhana bahagia, sesederhana berjalan pagi menghirup udara segar.
Sesederhana itu pula Tuhan mencipta alam dengan sempurna.
Dan manusia seharusnya dapat menjaganya tanpa keluh.
Aku ingin senantiasa menghayati alam, dimana pun itu, sesederhana apapun itu.

Aku ingin menghayati alam bersamamu, mungkin akan terasa lebih menyenangkan.
Sekedar berjalan, atau berlari dalam senja, dan penghayatan akan alam yang dalam.
Menghayati alam sambil sesekali menoleh kearahmu.
Menghayati alam dan menghayati pesona indah wajahmu.
Menghayati hingga mata hari terbenam, dan gelap mengakhiri tatapanku padamu.

Sesederhana itu saja.
Menghayati alam dengan rasa syukur yang teramat dalam.
Menghayati alam bersamamu disampingku.
Menghayati alam sesederhana aku mencintaimu.
Menhayati alam dan wajahmu, sampai matahari terbenam dihadapanmu.

Jalan Pulang dan Sedikit Waktu untuk Berpikir.

Kalah adalah hal biasa, bukan sesuatu yang harus disesali.
Kesekian kalinya mengikuti lomba dan belum berhasil menyandang gelar juara, merupakan sebuah tanda aku harus lebih giat lagi. Tapi point utama disini bukan untuk mencurahkan isi hati tentang sebuah kekalahan dalam lomba, bukan. Tapi aku seperti biasa ingin mempublikasikan karyaku yang belum berhasil membawa namaku menjadi juara. Karena buatku "dari pada berdebu menjadi arsip saja di laptopku". Langsung saja.....

***


Jalan Pulang dan Sedikit Waktu untuk Berpikir

Aku sangat menikmati setiap jengkal jalan yang kulalui pulang malam ini.
Meski melelahkan, namun terasa melegakan rongga hati.
Terasa menyejukan pikiran, dan menyegarkan akal.
Meski gambaranmu masih tercetak jelas dalam ingatanku.

Kiranya proses untuk benar-benar melepaskan diri akan terasa sulit.
Seperti jeratan benalu pada serat daun.
Sederhana, namun begitu erat dan  mengganggu.
Berulang kali dilepaskan namun berulang kali tumbuh lagi, bahkan lebih lebat dan erat lagi.

Jalan pulang yang senantiasa memberi waktu untuk berpikir.
Jalan pulang yang senantiasa memberi jarak, untuk menyiapkan ketenangan hati.
Jalan pulang yang selalu aku rindukan.
Ini jalan pulang menuju rumah sungguhanku.
Lantas dimanakah jalan pulang menuju rumah hatimu?
Kerlap-kerlip dan silaunya lampu, menambah syahdu perjalanan pulang penuh rindu.

Jalanan rutin yang kulalui, belum mampu melepas jeratmu pada hatiku.
Jalanan rutin yang kulalui, masih terasa kurang dalam memberi waktu untuk pikiranku.
Jalanan rutin yang kulalui, tak bisakah memberiku jawaban?
Jawaban akan perjalanan menuju rumah hati mu, yang harus kuteruskan, atau kutinggalkan.

Jalan pulang yang terasa kurang panjang ini.
Setidaknya dapat memberi sedikit waktu untuk berpikir.
Dan dapat sedikit mencipta ketenangan hati, dan kebebasan pikiran.