Rabu, 12 Agustus 2015

Menjadi Malam

Menjadi malam
Satu jam
  
Dua jam

Tiga jam

Berlalu begitu saja, tanpa kau sadari.

Malammu kian hitam, malammu kian pekat, dinginnya mulai mengikat.

Menjadi malam
Caraku untuk melindungimu.
Dengan diam, dengan hening, dan beningnya cahaya bintang.
Jinjit kaki mengantarkanku pada lelapmu.
Menyelimuti sebagian atau seluruh tubuhmu, dengan selimut yang gemar menghangatkan.


Menjadi malam
Menatapmu sepuas-puasnya, sampai pagi menjelang.

Menjadi malam
Menghujanimu dengan peluk hangat, sejadi-jadinya.

Menjadi malam
Melindungimu dari siksa mimpi penuh kejahatan.

Menjadi malam untukmu.
Sampai,  menjadi pagi datang memanggil namaku.

Aku yang selalu akan menjadi malammu, pagimu, siangmu, soremu, dan malammu lagi.

Berdua Bersama Hening

Aku tidak bisa melukis, atau menulis.
Untuk sekedar bercerita saja, lidahku terbata-bata membentuk kata.
Aku menangis, di ujung ruang hampa penuh luka.
Aku tidak melihat cahaya sedikit pun, bahkan dari celah jendela rapuh tanpa ampun.


Aku ingin menari, namun tubuhku lebih kaku dari sekedar kerah baju baru.
Aku ingin berlari, namun kaki seakan beku, tak bisa untuk berdiri sekalipun, kaku.
Aku diam, termenung, mencoba berpikir namun tak dapat berpikir.

Seseorang mengajakku bicara, aku hanya diam.
Seseorang mengajakku becanda, aku tidak tertawa.
Bahagiaku seakan lenyap.
Tidak dapat ku jelaskan mengapa ini terjadi.

Hujan di balik jendela.
Menyisakan embun dingin di kaca jendela.
Aku tertawa.                  
Dinginnya seakan mengolok-olok ku.
Dan aku tertawa.
Menertawai kesalahan dan kebodohan yang telah ku cipta sendiri.

Dan kini, ku ditinggalkan sendiri.
Ralat, aku berdua bersama hening.
Tanpa kata, tanpa cerita, tanpa warna dan gambar, tanpa tulisan, tanpa tawa, dan tanpa mu.

Ftrrzkm~
Fiksi ditinggal sendiri.
Kaku mencipta rangkai kata.

Kamis, 23 Juli 2015

Gadis Kesepian

“Aku tidak pernah merasa sesedih ini” katanya, “sedih tanpa alasan, lebih terasa menyesakan dibandingkan dengan sedih yang disertai berjuta alasan. Aku menangis setiap hari, tanpa tahu apa yang sebenarnya ku tangisi” tambahnya lagi.

Aku masih setia mendengarkan keluh kesah mengenai kesedihan tanpa sebabnya. Aku hanya diam, karna aku tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.

"Aku memeluk diriku sendiri, setiap hari" katanya

“Kenapa?” kali ini aku bersuara

“Karena tidak ada yang mengerti, mungkin karna aku yang menyulitkan orang lain untuk mengerti diriku”

Aku merentangkan kedua tanganku, berusaha merengkuhnya. Setidaknya meskipun aku tidak benar-benar mengerti kondisinya saat ini, aku bisa menambah jumlah pelukan yang ia terima, memberikan ketenangan bahwa ia tidak sendiri, dan tidak perlu sampai memeluk dirinya sendiri jika butuh sebuah pelukan, karena aku ada.

“Kamu masih ingin menangis?” tanyaku, “menangislah sampai lelah dalam pelukku ini. Semoga dengan cara ini besok dan selanjutnya tidak ada lagi tangisan tanpa sebabmu. Jangan pernah merasa menjadi orang yang paling nelangsa dalam hidup”

Menangislah ia sejadi-jadinya. Dalam pelukku, aku berusaha memeluknya dengan kedua tanganku yang sebenarnya tidak benar-benar ada. Dan berusaha menenangkannya dengan nasihatku, yang sebenarnya ia tidak benar-benar bisa mendengar suaraku. Karena aku benda mati.

Karena aku.
Guling di kamarnya.

Sabtu, 04 Juli 2015

Sebuah Surat Tanpa Alamat Penerima

Halo aku datang bersama surat ini sebagai seorang yang bahkan tidak luput dari dosa. Seseorang yang tentunya tidak suci seperti bayi yang masih seperti kertas putih tanpa dosa. Seseorang yang masih gamang akankah aku masuk dalam surga-Nya?, namun aku tidak pernah berhenti berharap dan terus berusaha untuk meraih surga-Nya, lagi-lagi ku katakan aku bukan orang yang bersih tanpa dosa.

Aku menulis ini dalam keadaan sangat tenang, tidak pernah sekalipun ku khususkan tulisan ini untuk seseorang atau siapapun, tidak pernah. Aku hanya menyalurkan apa yang aku pikirkan. Jika terjadi kesalahan, ku harap dapat di maklumi atau di koreksi, karna lagi-lagi aku bukan makhluk paling sempurna, aku hanya manusia yang tidak luput dari dosa.

Aku menuliskan ini dalam keadaan tidak sabar, khawatir semua yang ada di kepala ku lari entah kemana. Sampai-sampai aku tidak sabar menanti loading yang dilakukan dalam memproses hidupnya laptop ku.

Ini tentang kita, manusia yang semuanya tidak ada yang sempurna. Terus-terusan berusaha meraih Ridho-Nya, meraih ampunannya, atas dosa-dosa yang diperbuat. Tidak ada manusia yang bersih tanpa dosa, ada saja kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Baik kesalahan yang dilakukannya dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, atau pun manusia dengan dirinya sendiri.

Yang membuatnya berbeda adalah, pilihan hidup yang diambil. Apakah ia akan terus berada di satu titik yang sama? Atau ia akan berjalan, berproses membentuk garis mencoba memperbaiki diri?. Tidak apa perubahan diri itu berjalan tidak cepat, karna semuanya pun membutuhkan proses. Mie instan saja yang disebut “instan” masih membutuhkan proses ya kan?

Aku percaya Allah maha pemaaf, Allah memaafkan umatnya yang ingin berubah dan bertaubat atas dosa-dosanya. Lantas mengapa kita umatnya yang bukan apa-apa ini sering kali enggan memaafkan sesama atas apa yang kesalahan yang diperbuatnya.

Mungkin kesalahan yang teramat sangat yang membuat mu, aku, atau kita menjadi enggan memaafkan, menjadi sangat marah, atau bahkan sampai membenci. Lantas dengan alasan itukah kita boleh mencacinya atas kesalahan yang diperbuat?, sungguh hal itu sesungguhnya tidak pantas. Terselip sebuah pertanyaan, dibayar berapakah kamu untuk membenci orang lain? Apakah hasil yang kamu dapatkan dari membenci orang lain? Memaki orang lain?, hanya akan mengotori hati lebih dalam lagi.

Aku menulis ini agar dapat mengingatkan ku, bahwa sesungguhnya manusia bukan apa-apa untuk tidak memaafkan orang lain.

Mungkin tidak saat ini kamu, aku, atau kita memaafkan kesalahan orang yang telah menyakiti kita. Mungkin nanti, mungkin butuh waktu yang lama. Menurutku cepat atau lambatnya kita memaafkan kesalahan orang lain tergantung bagaimana kita bisa memberi ruang dalam hati, sedikit celah dalam hati saja untuk ikhlas. Untuk merelakan.

Satu kutipan dari buku kesukaan ku Rectoverso yang dapat melapangkan hati disaat tersakiti, “Tenerima, menyangkal, dan menolak cuma bikin lelah”, ya menyimpan bongkahan kebencian hanya akan membuat hati lelah, dan langkah menjadi terasa berat.

Ku sudahi saja semua ini, semoga dapat berkenan di hati para pembaca secarik surat elektronik atau apalah namanya. Manusi tidak pernah lepas dari dosa, yang membedakan hanya membiarkan dosa itu berlarut atau bangkit untuk memperbaiki segalanya.

Dengan penuh ketengangan.
Ftrrzkm-

Kamis, 02 Juli 2015

Binel Kucing Tiga Warna Dalam keluarga

Mungkin ini akan menjadi seperti sebuah tugas Bahasa Indonesia anak sekolah, mendeskripsikan sesuatu.

Aku punya sesuatu yang sangat lucu, sesuatu yang sangat sering membuat ku rindu, sesuatu yang sangat cantik, dan mampu menghadirkan sebuah senyuman saat diri sedang dilanda kesusahan, ya sebut saja pelipur lara.

Sesuatu itu adalah seekor kucing, kehadirannya yang lama telah didambakan, kucing ku yang diberi nama Binel. Mungkin kedengarannya aneh, tidak seperti nama-nama kucing lain yang banyak digunakan, misalnya “Kitty, Pussy, empus, meong, dll” ya Binel.

Kucing dengan bulu yang dominan berwarna putih, dengan corak hitam, abu, belang, dan coklat. Kucing tiga warna ku, kucing gendut ku yang memiliki bulu tebal dan panjang, imut seperti boneka.

Tingkahnya yang menyebalkan namun mampu mengukir senyuman, lucu, aneh, gilak, tidak wajar, tidak sopan, berisiknya, dan masih banyak lagi. Kamu belum bisa percaya Binel sangat menggemaskan sampai kamu bertemu dengannya.

Binel takut dengan beberapa orang asing, Binel kucing yang mudah terkejut (misalnya saja saat mendengar bunyi petasan), Binel kucing yang sangat suka berburu cicak, Binel kucing yang akan memaksa masuk kerumah sampai “istilahnya gedor-gedor pintu rumah (versi kucing)”, Binel yang suka meminta jajanan manusia *yang mana tidak bisa ku sebut namanya, nanti terkesan promosi*, Binel yang suka menjilat kaki atau tangan ku atau seseorang yang menyentuhnya, ya masih banyak lagi kelakuan Binel si kucing gendut ku.

Saat jarak membuat ku tidak bisa bertemu binel (baca: tertahan oleh kuliah di kosan) dan jarak membuat rindu ku pada Binel tercipta, aku hanya dapat melihat foto-foto lucunya di handphone, dan mendengar rekaman suaranya di handphone ku. Aku belum pernah sebegitu hebatnya menyayangi binatang peliharaan ku, sampai-sampai merindukannya seperti ini, biasanya aku cepat bosan.

Mungkin aku terlihat ‘aneh’ degan menuliskan tentang Binel sampai sebegininya, teman ku saja prihatin. Tapi sungguh, kucing, Binel aku sangat jatuh hati padanya.

Binel kucing gendut tiga warna ku.

ftrrzkm~

Binel Kecil

Binel dan Buku Kuliah ku







#Saat ini Binel sudah lebih besar dari foto-foto di atas.

Rabu, 27 Mei 2015

Untuk Kamu yang Sedang Risau

Halo, apa kabar?
Ku dengar kamu sedang risau ya?

Ada apa gerangan?

Apa yang menggelayuti pikiran mu? Sehingga kamu menjadi murung seperti ini?
Sungguh aku tidak kalah gelisah, memikirkan keadaan kamu yang sedang dilanda kerisauan.

Jangan sampai sakit ya, aku tidak ingin kehilangan tawa mu. Sungguh tawa mu membahagiakan diri ku.

Kamu butuh pundak? Lihat pundak ku kosong, kamu boleh bersandari disini.
Ingat? Pundak ku pundak mu juga.

Aku tau aku memang belum mengenal mu lebih dalam.
Tapi aku berusaha memahami, dan menemani mu ketika kamu risau. Setidaknya aku berharap akan ada rasa lega dalam hela nafas mu, karna beban pikiran yang telah dibagi pada ku.

Mungkin kamu merasa asing dengan ku, mungkin.
Tapi aku tetap ingin berusaha menjadi yang terbaik buat mu, yaa minimal menjadi pendengar yang baik.

Kamu adalah hal terindah buat ku, maka aku tak ingin kamu layu.
Kamu adalah pemacu tawa ku ada, ketika ku sulit untuk sekedar tersenyum.
Maka aku tidak bisa membiarkan sinar dari wajah mu itu redup dan sendu karna tak dapat lagi tertawa.
Sulit memang membuat mu tertawa.
Tidak semudah dan sesederhana kamu mencipta tawa ku.
Tapi usaha ku untuk mu akan tetap ada.

Ya meski kamu yang sedang risau tidak ingin membagi kerisauan mu dengan ku, aku akan tetap ada disini.
Menanti mu, sampai mulut mu terbuka untuk berbagi cerita atau tidak sama sekali.
Aku menanti mu, sampai luka mu sembuh.
Jika boleh, aku ingin menyembuhkan luka mu, dan menghilangkan risau mu.
Adakah kesempatan itu untuk ku?

Jika memang tidak ada, tidak masalah buat ku.
Aku akan tetap mendoakan kebaikan untuk mu.
Dan percayalah, pasti akan ada jalan yang telah disiapkan oleh-Nya untuk kamu, kembali berjalan dengan tegap dan penuh percaya diri, tanpa kerisauan yang terlukis di wajah mu.

"Postingan ini dipersembahkan untuk KOMBUN @BLOGGER_UNJ pada edisi #MEI2015

Jumat, 08 Mei 2015

Di Balik Lensa kamera


Di balik lensa kamera ini, ada aku yang senantiasa mengawasi gerak-gerik mu.
Mengamati setiap inci gerakan yang kamu ciptakan.
Dan lagi-lagi rasa kagum itu kembali membuncah.
Kamu dengan gerakan tenang mu sungguh menghipnotis,
sayang aku hanya dapat mengamati mu dalam diam.
Bukan aku ingin menjadi lelaki pengecut, dengan memendam rasa seperti ini.
Aku hanya tidak ingin merusak ceria itu.
Teman ku selalu menyarankan aku untuk melakukan pendekatan pada mu,
namun tidak semudah itu.
Karna yang tahu soal kamu itu aku,
bukan teman-teman ku.

“udah lama nunggunya?”
“Enggak kok sayang”


Mereka tidak tahu apa-apa, mereka tidak tahu bahwa kamu Sudah milik orang lain.

***

“Apa sih yang kamu suka dari Jakarta, sampe kamu betah banget tinggal di Jakarta yang menurut ku     sumpek begini?”
“Nanti malem ada acara? Aku tunggu kamu di jembatan penyebrangan di depan kampus ya”

Telfon ku matikan, ini untuk kesekian kalinya ia mempertanyakan hal yang sama, dan kali ini aku ingin menunjukan padanya bahwa semua tidak seburuk yang ia pikirkan.

“Jadi ada apa diatas jembatan ini Hanum?”
“Kamu mau tau keindahan tersembunyi dari Jakarta kan? Kalo dilihat pakai mata telanjang mungkin     biasa aja ya, coba kamu lihat potretnya pakai kamera ini”
“Kerlap-kerlip”
“Masih banyak yang indah dari ini percayalah Sarah”

***

Aku tidak menyangka. Belasan tahun aku bersamanya membangun rumah tangga dengan penuh cinta, namun ternyata harus berakhir dengan perceraian, karna sebuah ke salah pahaman.

Pagi ini aku masih berhadapan dengannya di meja makan. Wajahnya masih keras penuh amarah.

“Yakin kamu mau menyudahi ini semua, bagaimana dengan anak-anak?”

Dia diam

“Coba kamu pikirkan lagi, ini bukan masalah sebulan dua bulan”

Aku menyerahkan setumpuk album foto, aku membukakan satu halaman foto saat anak pertama kami lahir.

“Lihat kan? Ini masih bisa diselesaikan dengan baik”

Dia menangis, berdiri dari kursinya menghampiri ku memeluk ku erat.

“Maaf”
“Potret dari lensa kamera menyelamatkan kita”

***

Indonesia itu indah, bahkan tempat sesumpek Jakarta pun akan terlihat indah jika di hayati.

“Libur tahun baru ini mau kemana? Mau ku antar ke suatu tempat kamu bisa menyalurkan hobi foto     mu?”
“Kamu selalu begitu, selalu menemani ku setiap akhir tahun, memang kamu tidak ada acara dengan     anak istri mu?”
“Jawab saja, mau ku temani atau tidak?”
“Kali ini tidak, aku tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga kecil mu”
“Sejak kapan kamu menolak karna alasan itu?”
“Sejak aku sadar kita harus berhenti. Belajarlah mencintai keluarga mu Danu”

Danu akhirnya menyerah, kita saling berjarak, dan aku mulai mencipta potret Indonesia tanpanya.